Tanpa Bahasa

Akupun terhenyak, tak menyangka semua akan berjalan seperti ini. Entah aku yang begitu terbuai atau memang keadaan yang begitu pandai memperdayaku disini. Memang, aku hanyalah sosok yang tak berdaya. Tak ayal aku mudah diombang ambing dan di permainkan dalam algoritma miliknya.
Teringat saat kamu meminta padaku sepenggal kata, namun aku memberikanmu cerita. Mungkin aku terlalu berlebihan padamu saat aku meminta seberkas cahaya. Karena kamu memberikan kegelapan.
Kembali teringat, Dimana kamu selalu mengira ku tak merindumu. Namun aku selalu dan selalu mencoba tuk disisimu. Tak peduli berapa macam terjal tetap ku lalui hanya untukmu, hanya tuk mempertahankan kamu. Namun sayang, sepertinya kamu tak mengerti itu.
Terkadang akulah yang selalu mengira, dimana kamu akan mengharapkanku. Namun anganku kembali tak sejalan dengan kenyataan. Dimana kamu tak pernah rindukanku.
Ku buka lembaran memori sehingga akupun teringat. Yang tertinggal disini hanyalah aku. Oh ralat, aku ditinggalkan lebih tepatnya, bukan tertinggal. Jadi yang tertinggal disini sebingkai kenangan.
Iya, hanya kenangan yang tersisa. Ia hanyut dalam sepenggal kisah. Hingga kerap ku merasakan kerinduan memaksa. Tiada sekejap ku terdiam, tiada sempat ku merasakan. Aku mati rasa.
Hingga ku torehkan kesimpulan.
Ku menanti namun kau menghilang tanpa bahasa.
———
inspired by Tanpa Bahasa - Afgan




