ALL OF MY MIND

RSS
May 2

Jenis posternya memang bermacam-macam. Namun tetap saja, film ini luar biasa. Baru kali ini nonton film yang dari awal mulai sampe akhir isinya nyanyian semua. Bahkan dialog pun di nyanyiin !

Drama musikal ? biasa.
Film musikal ? *mikir keras*

May 2
Aku sendiriBerpura pura dia disampingkuSeorang diriAku berjalan dengannya sampai pagiTanpa diaAku merasa tangannya disekitarkuDan ketika aku tersesat, aku menutup matakuDan dia menemukankuDi tengah hujanJalanan berkilau seperti perakSemua cahayaAdalah kabut di dalam sungaiDikegelapan, pepohonan penuh dengan cahaya bintangDan yang kulihat hanyalah dia dan aku selamanya dan selama-lamanyaDan aku tahu ini hanya dipikirankuAku hanya berbicara sendiri dan tidak dengannyaMeskipun aku tahu dia butaTetap saja aku anggap masih ada jalan untuk kitaAku mencintainya tapi ketika malam berakhirDia hilang, sungai hanyalah sebah sungaiTanpanya dunia di sekitarku berubahPepohonan gersang dan dimana-mana.Jalanan penuh dengan orang asing.Aku mencintainya, tetapi setiap hari aku menyadariSeluruh hidupku hanyalah berpura-puraTanpaku, dunianya akan mulai berpuarDunia yang penuh dengan kebahagiaan yang takkan pernah ku ketahuiAku mencintainya, tapi hanya aku seorang diri

Dikutip dari film Les Miserables 2, sebuah film musikal yang luar biasa :)

Aku sendiri
Berpura pura dia disampingku
Seorang diri
Aku berjalan dengannya sampai pagi

Tanpa dia
Aku merasa tangannya disekitarku
Dan ketika aku tersesat, aku menutup mataku
Dan dia menemukanku
Di tengah hujan

Jalanan berkilau seperti perak
Semua cahaya
Adalah kabut di dalam sungai
Dikegelapan, pepohonan penuh dengan cahaya bintang
Dan yang kulihat hanyalah dia dan aku selamanya dan selama-lamanya

Dan aku tahu ini hanya dipikiranku
Aku hanya berbicara sendiri dan tidak dengannya
Meskipun aku tahu dia buta
Tetap saja aku anggap masih ada jalan untuk kita

Aku mencintainya tapi ketika malam berakhir
Dia hilang, sungai hanyalah sebah sungai
Tanpanya dunia di sekitarku berubah
Pepohonan gersang dan dimana-mana.
Jalanan penuh dengan orang asing.

Aku mencintainya, tetapi setiap hari aku menyadari
Seluruh hidupku hanyalah berpura-pura
Tanpaku, dunianya akan mulai berpuar
Dunia yang penuh dengan kebahagiaan yang takkan pernah ku ketahui

Aku mencintainya, tapi hanya aku seorang diri

Dikutip dari film Les Miserables 2, sebuah film musikal yang luar biasa :)

Dialog absurd ini terjadi saat mata kuliah Bahasa Pemrograman berlangsung. Dialog yang dilontarkan oleh sepasang gadis yang memiliki kesamaan. Mungkin dialog ini tidak berkesinambungan, tapi bagiku dialog ini begitu bermakna.

A : Ku menanti namun kau menghilang tanpa bahasa *ceritanya nyanyi*B : Hari ini 29 april, mood turun drastis gara” hal sepele bangeeet. rasanyaaaa ;( ;( ;(A : Rasanya seperti di permainkan. Memang ia begitu lihai untuk menguras mood.B : setelah hati dan raga ini di ajak terbang olehnyaa beberapa saat kemudian dia hempaskan dengan sangat keji.A : Sepertinya ia memang seperti itu. Aku mengerti dia, tapi dia tidak mengerti aku.B : aku bingng harus berbuat apa, perasaan ini sungguh berkecamuk tidak karuan :(A : Entah ia buta atau apalah. Yang jelas ia lebih memihak ke fatamorgana dibandingkan aku. Dan yang tertinggal kini hanyalah kenangan yang hanyut dalam sepenggal kisah.B : Aku mencoba mengerti, mencoba untuk menerima, tapi entah sampai kapan hati ini bertahan ?A : Aku memang menyedihkan. Aku adalah pemain bertahan. Tugasku adalah mempertahankan kamu, namun kamu tidak pernah mempertahankan aku.

Dialog absurd ini terjadi saat mata kuliah Bahasa Pemrograman berlangsung. Dialog yang dilontarkan oleh sepasang gadis yang memiliki kesamaan. Mungkin dialog ini tidak berkesinambungan, tapi bagiku dialog ini begitu bermakna.

A : Ku menanti namun kau menghilang tanpa bahasa *ceritanya nyanyi*

B : Hari ini 29 april, mood turun drastis gara” hal sepele bangeeet. rasanyaaaa ;( ;( ;(

A : Rasanya seperti di permainkan. Memang ia begitu lihai untuk menguras mood.

B : setelah hati dan raga ini di ajak terbang olehnyaa beberapa saat kemudian dia hempaskan dengan sangat keji.

A : Sepertinya ia memang seperti itu. Aku mengerti dia, tapi dia tidak mengerti aku.

B : aku bingng harus berbuat apa, perasaan ini sungguh berkecamuk tidak karuan :(

A : Entah ia buta atau apalah. Yang jelas ia lebih memihak ke fatamorgana dibandingkan aku. Dan yang tertinggal kini hanyalah kenangan yang hanyut dalam sepenggal kisah.

B : Aku mencoba mengerti, mencoba untuk menerima, tapi entah sampai kapan hati ini bertahan ?

A : Aku memang menyedihkan. Aku adalah pemain bertahan. Tugasku adalah mempertahankan kamu, namun kamu tidak pernah mempertahankan aku.

Ku menanti namun kau hilang tanpa bahasa

- Suka banget sama kata-kata ini di lagunya Afgan - Tanpa Bahasa

Tanpa Bahasa

Akupun terhenyak, tak menyangka semua akan berjalan seperti ini. Entah aku yang begitu terbuai atau memang keadaan yang begitu pandai memperdayaku disini. Memang, aku hanyalah sosok yang tak berdaya. Tak ayal aku mudah diombang ambing dan di permainkan dalam algoritma miliknya.

Teringat saat kamu meminta padaku sepenggal kata, namun aku memberikanmu cerita. Mungkin aku terlalu berlebihan padamu saat aku meminta seberkas cahaya. Karena kamu memberikan kegelapan.

Kembali teringat, Dimana kamu selalu mengira ku tak merindumu. Namun aku selalu dan selalu mencoba tuk disisimu. Tak peduli berapa macam terjal tetap ku lalui hanya untukmu, hanya tuk mempertahankan kamu. Namun sayang, sepertinya kamu tak mengerti itu.

Terkadang akulah yang selalu mengira, dimana kamu akan mengharapkanku. Namun anganku kembali tak sejalan dengan kenyataan. Dimana kamu tak pernah rindukanku.

Ku buka lembaran memori sehingga akupun teringat. Yang tertinggal disini hanyalah aku. Oh ralat, aku ditinggalkan lebih tepatnya, bukan tertinggal. Jadi yang tertinggal disini sebingkai kenangan.

Iya, hanya kenangan yang tersisa. Ia hanyut dalam sepenggal kisah. Hingga kerap ku merasakan kerinduan memaksa. Tiada sekejap ku terdiam, tiada sempat ku merasakan. Aku mati rasa.

Hingga ku torehkan kesimpulan.

Ku menanti namun kau menghilang tanpa bahasa.

———

inspired by Tanpa Bahasa - Afgan

Kata dan Cerita

Terlalu banyak kemungkinan yang bercabang.
Dimana setiap cabang terdiri anak cabangnya yang baru.
Terus dan terus seperti itu.
Hingga aku meronta.
Terkapar dalam zona fikiranku sendiri.

image

Mungkin aku begitu kekanak-kanakan saat aku hanya berbicara melalui tulisan. Mungkin aku begitu munafik karena hanya berani menorehkan pendapat dan jalan fikiranku dalam tulisan.

Bukan mungkin, tetapi memang kenyataannya seperti itu. Iya, aku tahu. Aku memang payah tak berani mengatakannya. Iya payah, aku payah ketika seluruh tubuhku diam membisu, diam membeku, dan diam tanpa bahasa. Dan jujur, aku benci disaat tubuhku seperti ini.

Aku memang berlebihan. Saat kau meminta sepenggal kata, bodohnya aku malah memberikanmu sebuah cerita. Iya, ini salahku, bukan salahmu. Sudah ku telan semuanya secara bulat-bulat. 

Jika jujur, rasanya ingin sekali ku bilang padamu kalau disini aku terkapar tak berdaya dalam kegelapan yang kau ciptakan. Iya, kegelapan yang begitu uletnya kau ciptakan hanya untukku. Setelah itu dengan senyuman dan perlakuan manis kau letakkan aku disana, di dalam kegelapan buatanmu. Dan rasanya sungguh begitu nyata, bukan ilusi semata.

Tapi nanti ada yang nyindir lagi.
Atau ngomongin dibelakang ?
Atau ngadu sama penguasa tahta ?
Kalau kurang suka, kamu berdoa aja sama Allah biar indra pendengar kamu ga berfungsi. Kan enak, jadinya kamu ga usah dengar suara ku yang hanya begini saja. Kamunya juga enak, kalo mau belajar konsentrasinya ga terganggu gara-gara ada yang berisik. Nanti aku aminin deh.
Kurang baik apa coba ?
Sindiran manismu tetap ku balas dengan perbuatan manis kok :)

Tapi nanti ada yang nyindir lagi.

Atau ngomongin dibelakang ?

Atau ngadu sama penguasa tahta ?

Kalau kurang suka, kamu berdoa aja sama Allah biar indra pendengar kamu ga berfungsi. Kan enak, jadinya kamu ga usah dengar suara ku yang hanya begini saja. Kamunya juga enak, kalo mau belajar konsentrasinya ga terganggu gara-gara ada yang berisik. Nanti aku aminin deh.

Kurang baik apa coba ?

Sindiran manismu tetap ku balas dengan perbuatan manis kok :)

Apr 6

Suatu Musim Semi

Bagaimana pekerjaanmu hari ini ? Tanyaku dengan suara nanar karena kau tak menjawabnya. Kau yang tak lagi di ruangan itu. Kau yang kini meninggalkan sejuta kenangan.

Atau perlukah ku tanya, bagaimana kabarmu dengan cuaca di musim semi ini ? Iya kamu, kamu yang selalu memasang wajah dinginmu itu.

Bagiku, pagi ini aku sibuk sekali. Aku sibuk membereskan tempat ini. Ya tempat yang ku singgahi selama 3 tahun ini. Tempat yang nantinya akan menjadi kenangan, karena nantinya aku tidak akan tinggal disini lagi.

Lalu aku teringat, teringat akan kenangan kita. Kenangan yang kelak akan menjadi debu, dan akan terpatri diruangan itu. Tapi mengapa ? Mengapa rasanya seakan-akan baru kemarin ?

Setiap hari, tak lelahnya ku curahkan segala airmataku dan segala gelak tawaku untukmu. Dan setiap hari, aku selalu dikelilingi oleh hati yang menangis.

Ku coba tegar dan menatap langit. Dengan hati yang menangis aku selalu berkata “Tidak apa-apa, tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Yang ku butuhkan hanya meninggalkan mereka semua disini. Aku hanya perlu melempar kenangan itu disini, dan membiarkannya menjadi debu.

Hei kamu.
Barang-barangmu masih disini, tolong kau ambil dan kau bawa pergi. Melihatnya hanya membuatku kembali teringat padamu. Teringat padamu hanya membuat goresan lain dihati ini. Cukup, kau sudah terlalu membuat goresan disini, jangan kau tambah lagi. Dan hebat sekali, kau buatku menangis kembali. Air mata ini kembali mengalir dengan derasnya, mengalir begitu saja tanpa seijinku. Oh tidak, air mata ini mulai tidak mematuhiku, sama seperti kamu.

Lalu jika kau memberikanku kenangan yang begitu banyak, apa yang harus ku lakukan ?

Aku kembali menangis karenamu. Saat mengingat kenangan kita, aku juga tertawa, ya itu juga karenamu. Setiap hari, hati ini selalu teringat kamu. Kamu yang menjadi penghuni tetap di hati ini. Tapi kau tetap pergi.

try to dry my tears

try to dry my tears

Sebuah klimaks

Biasanya aku selalu pandai tuk merancang sebuah skenario. Skenario yang ku rancang seolah aku ‘baik-baik saja’, Seolah olah aku ‘bahagia’, Seolah-olah ‘tak terjadi apa-apa’



Tapi apakah salah jika aku sudah menginjak sebuah titik jenuh ? Titik jenuh yang mencapai klimaks hingga aku tak sanggup menatap dunia. Ralat, menatap kamu yang mungkin sudah menghapusku. Menghapusku hingga ke akar yang paling dalam tanpa rasa kemanusiaan sedikitpun.

Entah aku bodoh ataupun insting tubuhku rusak, aku tak tahu. Dimana kita dipertemukan kembali dalam sepersekian detik. Entah kenapa hati ini seakan pedih dan merintih melihat kamu. Padahal saat itu, kamu tidak melakukan apa-apa. Kamu tidak melakukan sebuah penganiayaan fisik kepadaku. Semua berjalan layaknya film bisu, tanpa dialog.

Anehnya rasa sakit kembali menjalar ke seluruh tubuhku. Mengalir dengan deras hingga ke seluruh pembuluh nadi. Seolah-olah tubuhku meronta, berteriak dengan sangat kencang. Hati kecilku mengeluarkan pendapatnya “Tolong hentikan semua ini, aku sudah lelah. Aku sudah lelah berpura-pura seperti ini. Aku ingin menangis layaknya jutaan wanita diluar sana yang dihempaskan tanpa ampun. Aku ingin. Aku lelah dengan segala kepalsuan ini.”

Belum selesai hati ini melontarkan pendapatnya, otakku dengan lincahnya membalas perkataannya “Jangankan engkau, aku yang terprogram berdasarkan logika saja sudah lelah. Lelah dengan membuat skenario palsu. Hei kamu ! Iya, kamu sang pemilik tubuh ! Apa kau tidak lelah dengan selimut kepura-puraanmu itu ?”

Aku hanya tersenyum nanar, memegangi hati ini. Dan menangis dalam hati. Daun-daun rindang dan tapak kaki kami menjadi saksi bisu. Sama seperti kebisuan kami.